SELAMAT DATANG SOBAT
Kamis, 14 Februari 2013
Jumat, 29 Juni 2012
MATERIAL DAN CONTOH KOMPOSISI BAHAN SPEED BOAT FIBER
Pada pembangunan kapal fiber ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya komposisi bahan dan lapisan fiber yang digunakan bait itu untuk Lumas (keel), Bottom, lambung, Gadimg-gading / kerangka dan bagian lain dari kapal fiber yang akan kita buat. Selain kompasisi bahan ketebalan bahan yang digunakan juga merupaka hal yang perlu diperhatikan
Semua material beserta perlengkapannya
yang dipergunakan untuk pengadaan speedboat adalah baru, dengan material
yang mempunyai kualitas uji bahan yang baik.dan khusus digunakan di
laut
Material yang dipakai untuk struktur lambung menggunakan bahan fibreglass dengan ketebalan minimal sebagai berikut :
- Lunas (keel)
Dengan susunan :
1 x Gel Coat (termasuk pigmen warna sesuai owner) + 1 x Mat.300 + 1 x Mat 450 + 2 x SM 1250 + 1 x Mat 450 + 2 x SM + 2 x Mat 450 = tebal ± 20 mm
- Bottom
Dengan susunan :
1 x Gel Coat (termasuk pigmen warna sesuai owner) + 1 x Mat.300 + 1 x Mat 450 + 3 x SM 1250 + 2 x Mat 450 = tebal ± 14 mm
- Lambung
Dengan susunan :
1 x Gel Coat (termasuk pigmen warna sesuai owner) + 1 x Mat.300 + 1 x Mat 450 + 2 x SM 1250 + 1 x Mat 450 = tebal ± 8 mm
- Gading-gading /Kerangka
Meliputi gading pada bottom, lambung dan dibawah main deck
Menggunakan profil U ukuran 50 x 50 mm dengan susunan (sebelum terpasang) :
1 x Mat.300 + 1 x Mat 450 + 1 x SM 1250 + 1 x Mat 450 = tebal ± 4 mm
Pemasangan menggunakan 2 x Mat 450 sehingga tebal terpasang mencapai = tebal ± 7 mm
- Lantai Deck
Lantai Ruang akomodasi dengan susunan :
1 x Gel Coat (termasuk pigmen warna sesuai owner) + 1 x Mat.300 + 1 x Mat 450 + 1 x SM 1250 + 1 x Mat 450 = tebal ± 6 mm
Deck Utama dengan susunan :
1 x Gel Coat (termasuk pigmen warna sesuai owner) + 1 x Mat.300 + 1 x Mat 450 + 2 x SM 1250 + 2 x Mat 450 = tebal ± 8 mm
Geladak beserta bangunan diatasnya
dicetak dengan system sandwich laminasi sehingga merupakan satu kesatuan
yamg utuh/ kuat dan dapat berfungsi dengan baik, Khusus untuk lantai/
geladak agar di pasang lapisan anti slip dengan structure, pelapisan, sebagai berikut :
- Bangunan atas
Dengan susunan :
1 x Gel Coat (termasuk pigmen warna sesuai owner) + 1 x Mat.300 + 1 x Mat 450 + 1 x SM 1250 + 1 x Mat 450 = tebal ± 6 mm
- Upper Deck
Deck Utama dengan susunan :
1 x Gel Coat (termasuk pigmen warna sesuai owner) + 1 x Mat.300 + 1 x Mat 450 + 2 x SM 1250 + 2 x Mat 450 = tebal ± 8 mm
FUNGSI ALUR PELAYARAN DAN ASPEK NAUTIS PENGEMBANGAN PELABUHAN
Alur pelayaran mempunyai fungsi untuk
memberi jalan kepada kapal untukmemasuki wilayah pelabuhan dengan aman
dan mudah dalam memasuki kolam pelabuhan. Fungsi lain dari alur
pelayaran adalah untuk menghilangkan
kesulitan yang akan timbul karena gerakan kapal ke arah atas (minimum ships maneuver activity) dan gangguan alam, maka perlu bagi perencana untuk memperhatikan seperti alur pelayaran (ship channel) dan mulut pelabuhan (port entrance).
Alur pelayaran harus memperhatikan besar kapal yang akan dilayani
(panjang, lebar, berat, dan kecepatan kapal), jumlah jalur lalu lintas,
bentuk lengkung alur, yang berkaitan dengan besar jari-jari alur
tersebut.
Dalam pengembangan suatu pelabuhan, aspek nautis (nautical aspec)
mempunyai peranan yang sangat penting dalam pergerakan kapal pada alur
dan kolam pelabuhan, demikian juga dengan operasi penyandaran kapal pada
dermaga. Pemilihan lokasi untuk pengembangan harus berdasarkan pada
lokasi yang aman dan ekonomis untuk pelabuhan dengan perairan, dalam
pemasalahan yang timbul. Karakteristik maneuver kapal, ukuran
besar dan kecilnya yang berbeda baik pada alur maupun pada kolam
pelabuhan. Pengembangan transportasi laut harus mengikuti perubahan
teknologi dan transport demand, jika pelabuhan fasilitasnya tidak mengikuti perkembangan
teknologi dimaksud, maka akan terjadi
kongesti, keterlambatan, dan kecelakaan yang bisa berdampak kepada
ekonomi nasional dan regional.
Penataan pelabuhan untuk memenuhi
kebutuhan yang baru sering mengalami kesulitan dan membutuhkan waktu
lama serta biaya tinggi. Oleh karena itu, untuk pengembangan pelabuhan
baru, evaluasi terhadap ukuran, tipe, dan jumlah kapal yang akan
menggunakan pelabuhan tersebut dan apakah kapal datang untuk
membongkar/memuat perlu untuk dilakukan.
Karena perbedaan antara forecast (perkiraan)
dan realisasi sering terjadi, maka penyediaan alur dan kolam perlu
dilakukan untuk mengantisipasi kehadiran kapal-kapal yang besar. Suatu
penelitian tentang karakteristik alur perlu dievaluasi terhadap
pergerakan trafik yang ada, pengaruh cuaca, operasi dari kapal nelayan,
dan karakteristik alur tersebut.
Transisi dari kecepatan kapal berlayar di laut dan pada saat penyandaran di dermaga secara umum dapat dibagi menjadi 3, yaitu:
- Tahap I, persiapan untuk pemindahan pergerakan.
- Tahap II, pengurangan kecepatan pada alur dan pergerakan berhenti.
- Tahap III, approuching dan penyandaran di dermaga.
Tahapan ini sama untuk kapal yang
akan meninggalkan pelabuhan, dimana kegiatan dilakukan sebaliknya.
Bentuk dari tahapan dapat dilihat dari kecepatan maksimum dan minimum
kapal tanpa melanggar kriteria keamanan.
Sebagai contoh, kecepatan
maksimum/minimum kapal pada saat memasuki alur sehingga kapal dapat
berhenti pada saat memasuki areal pelabuhan tanpa terjadi kecelakaan. Faktor
kecepatan ini akan berpengaruh pada dimensi vertikal/horizontal dari
alur kolam. Kapal dengan ukuran besar memerlukan area yang lebih besar
dibandingkan kapal yang ukuran kecil.
Bantuan tug boat (kapal tunda) diperlukan pada kecepatan rendah. Biasanya perangkat tug boat yang
diperlukan lebih besar pada saat kecepatan kapal makin kecil.
Kemungkinan kegagalan muncul ketika dilakukan kontrol gerakan kapal
melalui putaran mesin. Kesulitan mengontrol kecepatan kapal lebih sering
terjadi di lautan bebas karena perubahan kecepatan kapal. Kemungkinan
terjadi kecelakaan perlu diminimumkan terutama apabila kapal memuat
barang berbahaya. Kemungkinan kapal menyimpang dari alur dapat
disebabkan oleh faktor-faktor:
- Human error.
- Cuaca.
- Kondisi kapal.
Oleh karena itu, perencanaan penelitian
terhadap reaksi kapal terhadap kondisi perairan pada saat berlayar di
alur sangat penting untuk menjamin keselamatan kapal dari dan ke
pelabuhan. Tersedianya informasi bagi navigator kapal seperti posisi
kapal di alur, data kondisi lingkungan (seperti kecepatan angin, jarak
pandang, gelombang, arus dan pasut) merupakan hal penting.
PERENCANAAN PENGERUKAN
1. Kebutuhan Operasional Pelabuhan
Berkaitan dengan perencanaan pengerukan, criteria desain yang menentukan adalah rencana dimensi kapal,
karakteristik kapal, dan gerakan operasional kapal di dalam lingkungan pelabuhan.
2. Dimensi Pengerukan
Dimensi pengerukan sangat ditentukan oleh kebutuhan operasional pelabuhan, yaitu dimensi kolam pelabuhan,
dimensi turning basin, dan dimensi alur pelayaran yang telah dibahas pada bab sebelumnya.
3. Perencanaan Kedalaman Pengerukan
Faktor-faktor yang menentukan dalam perencanaan kedalaman pengerukan untuk kolam pelabuhan, turning basin dan alur pelayaran adalah :
- Kondisi kapal dalam keadaan sarat penuh.
- Digunakan referensi LWS dalam menentukan kedalaman kolam pelabuhan, sedang untuk menentukan kedalaman turning basin dan alur pelayaran ditentukan berdasarkan MSL dengan ketentuan operasional pandu/tunda pelabuhan harus memperhitungkan timing gerakan pasang surut yang tepat untuk pelayanan kapal berukuran maksimal.
- Perubahan kepadatan massa air karena perubahan salinitas.
- Squat atau penurunan permukaan air akibat gerakan gelombang yang dipengaruhi oleh kecepatan gerak kapal pada perairan dangkal.
- Pitching atau gerakan oleng kapal yang dipengaruhi oleh gelombang dan menyebabkan adanya amplitude gerak vertikal kapal.
- Trim atau karakteristik perubahan kemiringan badan kapal yang cenderung tenggelam di buritan yang dipengaruhi oleh kecepatan gerak kapal
- Faktor empirik atau clearance yang diperhitungkan terhadap keamanan (safety) badan kapal terhadap kekerasan tanah dasar, penjagaan sedimentasi, atau ketidakakuratan pengerukan.
- Kemudahan pelaksanaan di lapangan.
- Stabilitas lereng hasil pengerukan yang sangat ditentukan oleh kemiringan rencana pengerukan yang mengacu pada kemudahan pelaksanaan pekerjaan pengerukan, konstruksi dermaga dan struktur lainnya, kondisi karakteristik tanah dan jenis struktur proteksi/ penahan lereng akibat hasil pengerukan tersebut.
Pertimbangan-pertimbangan yang harus dilakukan sebelum pengerukan antara lain:
- Agar tidak membahayakan perlu berkoorodinasi dengan pihak militer dan pihak terkait lainnya untuk memberikan jika daerah yang dikeruk ditemukan adanya perlengkapan bahan peledak atau melakukan penghancuran material yang keras dengan menggunakan bahan peledak.
- Pengawalan harus dipersiapkan pada saat pengambilan material dengan kapal keruk hisap untuk mencegah masuknya meterial yang berlebih terutama yang dekat dengan fasilitas lainnya.
- Prosedur yang jelas untuk pelaporan dan kegiatan pengerukan harus direncanakan dan diikuti pelaksanaannya.
Berkaitan dengan perencanaan pengerukan, criteria desain yang menentukan adalah rencana dimensi kapal,
karakteristik kapal, dan gerakan operasional kapal di dalam lingkungan pelabuhan.
2. Dimensi Pengerukan
Dimensi pengerukan sangat ditentukan oleh kebutuhan operasional pelabuhan, yaitu dimensi kolam pelabuhan,
dimensi turning basin, dan dimensi alur pelayaran yang telah dibahas pada bab sebelumnya.
3. Perencanaan Kedalaman Pengerukan
Faktor-faktor yang menentukan dalam perencanaan kedalaman pengerukan untuk kolam pelabuhan, turning basin dan alur pelayaran adalah :
- Kondisi kapal dalam keadaan sarat penuh.
- Digunakan referensi LWS dalam menentukan kedalaman kolam pelabuhan, sedang untuk menentukan kedalaman turning basin dan alur pelayaran ditentukan berdasarkan MSL dengan ketentuan operasional pandu/tunda pelabuhan harus memperhitungkan timing gerakan pasang surut yang tepat untuk pelayanan kapal berukuran maksimal.
- Perubahan kepadatan massa air karena perubahan salinitas.
- Squat atau penurunan permukaan air akibat gerakan gelombang yang dipengaruhi oleh kecepatan gerak kapal pada perairan dangkal.
- Pitching atau gerakan oleng kapal yang dipengaruhi oleh gelombang dan menyebabkan adanya amplitude gerak vertikal kapal.
- Trim atau karakteristik perubahan kemiringan badan kapal yang cenderung tenggelam di buritan yang dipengaruhi oleh kecepatan gerak kapal
- Faktor empirik atau clearance yang diperhitungkan terhadap keamanan (safety) badan kapal terhadap kekerasan tanah dasar, penjagaan sedimentasi, atau ketidakakuratan pengerukan.
- Kemudahan pelaksanaan di lapangan.
- Stabilitas lereng hasil pengerukan yang sangat ditentukan oleh kemiringan rencana pengerukan yang mengacu pada kemudahan pelaksanaan pekerjaan pengerukan, konstruksi dermaga dan struktur lainnya, kondisi karakteristik tanah dan jenis struktur proteksi/ penahan lereng akibat hasil pengerukan tersebut.
Pertimbangan-pertimbangan yang harus dilakukan sebelum pengerukan antara lain:
- Agar tidak membahayakan perlu berkoorodinasi dengan pihak militer dan pihak terkait lainnya untuk memberikan jika daerah yang dikeruk ditemukan adanya perlengkapan bahan peledak atau melakukan penghancuran material yang keras dengan menggunakan bahan peledak.
- Pengawalan harus dipersiapkan pada saat pengambilan material dengan kapal keruk hisap untuk mencegah masuknya meterial yang berlebih terutama yang dekat dengan fasilitas lainnya.
- Prosedur yang jelas untuk pelaporan dan kegiatan pengerukan harus direncanakan dan diikuti pelaksanaannya.
SEKILAS OPERASIONAL PELABUHAN
1. Pelayanan Kapal
Pelayanan kapal dimulai dari kapal masuk
ke perairan pelabuhan, berada di kolam pelabuhan, ketika akan bersandar
di tambatan, sampai saat kapal meninggalkan pelabuhan. Dalam rangka
menjaga keselamatan kapal, penumpang dan
muatannya sewaktu memasuki alur
pelayaran menuju dermaga atau kolam pelabuhan untuk berlabuh, maka untuk
pelabuhan-pelabuhan tertentu dengan kapal-kapal tertentu harus dipandu
oleh petugas pandu yang disediakan oleh Pelabuhan. Pemerintah telah
menetapkan perairan-perairan yang termasuk dalam kategori perairan wajib pandu, perairan pandu luar biasa dan perairan di luar batas perairan pandu.
Untuk mengantar petugas pandu ke/dan kapal diperlukan peralatan kapal
yang disebut kapal pandu. Terhadap kapal yang keluar masuk pelabuhan dan
mempunyai panjang kapal lebih dari 70 meter, harus menggunakan kapal
tunda. Sedangkan terhadap kapal yang panjangnya (LoA = Length of All) lebih dari 30 meter, sebagai pertimbangan keselamatan, diharuskan menggunakan kapal kepil.
2. Bongkar Muat Barang
Jenis peralatan bongkar muat yang
digunakan di pelabuhan sangat tergantung kepada jenis barang yang akan
dibongkar/muat. Secara umum jenis barang dimaksud dikelompokkan menjadi 3
jenis yaitu: barang yang dikemas dengan petikemas, general Cargo dan
barang curah (kering/cair). Perkembangan petikemas (container) terutama
permintaan akan jasa petikemas meningkat cepat, hal ini disebabkan oleh
pertumbuhan teknologi angkatan laut. Bongkar muat petikemas ada yang
dilaksanakan di terminal petikemas dan ada di pelabuhan konvensional.
Adapun rangkaian kegiatan bongkar muat petikemas adalah kegiatan
bongkar/muat dari/ke kapal, kegiatan di lapangan penumpukan dan kegiatan
di gudang. Dalam pengoperasian petikemas digunakan peralatan yang
terdiri dari Ship To Shore (STS) Container Crane, Harbour Mobile Crane (HMC), Rubber Tyred Gantry (RTG) Crane, Rail Mounted Gantry Crane (RMGC), Yard Tractor, Head truck, Chasis/trailer, Reach Stacker, Forklift, Side Loader, Top loader dan peralatan lainnya. Sedangkan kegiatan bongkar muat general Cargo, umumnya digunakan peralatan antara lain: terdiri dari Level luffing crane, Barge Harbour Crane, Mobile Crane, Head truck + chassis, tronton, forklift, dan peralatan lainnya.
Selain bongkar muat petikemas dan general Cargo
juga terdapat bongkar/muat barang curah baik barang curah cair maupun
barang curah kering. Barang curah cair adalah dalam bentuk cairan (liquid)
seperti air, minyak nabati, minyak bumi, hasil kimia dan gas. Sedangkan
barang curah kering berupa butiran padat seperti tepung, pasir, semen, palawija (beras, jagung, gandum dll). Untuk mengangkut barang curah cair biasanya digunakan kapal-kapal tangki ultra (super tanker) dan
untuk bongkar muatnya antara dermaga dengan tempat-tempat penimbunan
muatan curah (tangki/silo) antara dermaga dengan tempat-tempat
penimbunan muatan curah cair ini dihubungkan melalui pipa dan dicurahkan
dengan tenaga pompa. Sedangkan peralatan yang digunakan untuk barang
curah kering biasanya digunakan suatu kombinasi dari peralatan
penghisap, grab, hopper, dan conveyor.
3. Instalasi Penunjang
Instalasi penunjang yang dimaksudkan di
sini adalah instalasi yang menunjang kegiatan pelayanan jasa
kepelabuhanan yang meliputi instalasi listrik, instalasi air dan
instalasi pengumpulan, pengolahan limbah. Tenaga listrik di pelabuhan
disuplai oleh PT PLN (Persero),
yang didistribusikan oleh Pelabuhan kepada pengguna jasa di Pelabuhan.
Tenaga listrik di pelabuhan, dapat juga digunakan untuk menggerakkan
peralatan pelabuhan.
ISTILAH-ISTILAH DALAM BONGKAR MUAT (B/M) DI PELABUHAN
PORT DUES:
Biaya pelabuhan yang dikenakan untuk penggunaan fasilitas-fasilitas pelabuhan dan tidak berhubungan dengan suatu pelayanan khusus pada pelabuhan yang disinggahi.
Biaya pelabuhan yang dikenakan untuk penggunaan fasilitas-fasilitas pelabuhan dan tidak berhubungan dengan suatu pelayanan khusus pada pelabuhan yang disinggahi.
PORT CHARGES:
Pungutan Pelabuhan yang dikenakan untuk suatu pelayanan khusus pada Pelabuhan yang disinggahi.
Pungutan Pelabuhan yang dikenakan untuk suatu pelayanan khusus pada Pelabuhan yang disinggahi.
OVERBRENGAN:
(pindah lokasi) memindahkan barang dari gudang/ tempat penumpukan yang satu ke gudang/ tempat penumpukan yang lain dalam daerah pelabuhan atau dari ship side ke gudang khusus untuk itu
(pindah lokasi) memindahkan barang dari gudang/ tempat penumpukan yang satu ke gudang/ tempat penumpukan yang lain dalam daerah pelabuhan atau dari ship side ke gudang khusus untuk itu
GILIR KERJA:
(shift) adalah jam kerja selama 8 jam termasuk istirahat 1 jam kecuali hari jum’at siang istirahat 2 jam, untuk kegiatan bongkar muat dengan penggantian tenaga kerja bongkar muat pada setiap gilir kerja
GANG TKBM:
jumlah tenaga tkbm dalam satu regu kerja
(shift) adalah jam kerja selama 8 jam termasuk istirahat 1 jam kecuali hari jum’at siang istirahat 2 jam, untuk kegiatan bongkar muat dengan penggantian tenaga kerja bongkar muat pada setiap gilir kerja
GANG TKBM:
jumlah tenaga tkbm dalam satu regu kerja
STEVEDORE:
pelaksana penyusun rencana dan pengendalian kegiatan bongkar muat di atas kapal
pelaksana penyusun rencana dan pengendalian kegiatan bongkar muat di atas kapal
QUAY SUPERVISOR :
petugas pengendali kegiatan operasional b/m di dermaga dan mengawasi kondisi barang sampai ke tempat penimbunan atau sebaliknya.
petugas pengendali kegiatan operasional b/m di dermaga dan mengawasi kondisi barang sampai ke tempat penimbunan atau sebaliknya.
CHIEF TALLY:
penyusun rencana pelaksanaan dan pengendalian perhitungan fisik, pencatatan dan survey kondisi barang pada setiap pergerakan b/m dan dokumentasi serta membuat laporan periodik.
penyusun rencana pelaksanaan dan pengendalian perhitungan fisik, pencatatan dan survey kondisi barang pada setiap pergerakan b/m dan dokumentasi serta membuat laporan periodik.
TELLY CLERK:
pelaksana yang melakukan perhitungan pencatatan jumlah, merk dan kondisi setiap gerakan barang berdasarkan dokumen serta membuat laporan
pelaksana yang melakukan perhitungan pencatatan jumlah, merk dan kondisi setiap gerakan barang berdasarkan dokumen serta membuat laporan
FOREMAN:
pelaksana dan pengendali kegiatan operasional b/m dari dan ke kapal sampai ke tempat penumpukan barang atau sebaliknya, dan membuat laporan periodik hasil kegiatan bongkar muat.
pelaksana dan pengendali kegiatan operasional b/m dari dan ke kapal sampai ke tempat penumpukan barang atau sebaliknya, dan membuat laporan periodik hasil kegiatan bongkar muat.
MISTRY:
pelaksana perbaikan kemasan barang dalam kegiatan stevedoring, cargodoring dan receiving/ delivery
pelaksana perbaikan kemasan barang dalam kegiatan stevedoring, cargodoring dan receiving/ delivery
WATCHMAN:
pelaksana keamanan barang pada kegiatan stevedoring, cargodoring dan receiving/ delivery
pelaksana keamanan barang pada kegiatan stevedoring, cargodoring dan receiving/ delivery
SLACK:
adalah perbandingan antara kinerja yang mungkin dicapai dengan kinerja yang terealisasi.
adalah perbandingan antara kinerja yang mungkin dicapai dengan kinerja yang terealisasi.
PERALATAN BONGKAR MUAT NON MEKANIK:
adalah alat pokok penunjang pekerjaan b/m yang meliputi jala-jala lambung kapal (shipside net), tali baja (wire sling), tali rami manila (rope sling), jala-jala baja (wire net), jala-jala tali manila (rope net), gerobak dorong, palet.
adalah alat pokok penunjang pekerjaan b/m yang meliputi jala-jala lambung kapal (shipside net), tali baja (wire sling), tali rami manila (rope sling), jala-jala baja (wire net), jala-jala tali manila (rope net), gerobak dorong, palet.
B/M DI REDE:
pekerjaan b/m dari kapal yang sandar di dermaga ke tongkang di lambung kapal dan selanjutnya mengeluarkan dari tali/ jala-jala (eks tackle) dan menyusun di tongkang serta membongkar dari tongkang ke dermaga dan sebaliknya
pekerjaan b/m dari kapal yang sandar di dermaga ke tongkang di lambung kapal dan selanjutnya mengeluarkan dari tali/ jala-jala (eks tackle) dan menyusun di tongkang serta membongkar dari tongkang ke dermaga dan sebaliknya
COMMANDING HATCH:
palka yang menentukan dimana palka tersebut memiliki isi kerja yang paling banyak dan paling mungkin mempengaruhi waktu awal atas waktu kerja yang menyeluruh.
palka yang menentukan dimana palka tersebut memiliki isi kerja yang paling banyak dan paling mungkin mempengaruhi waktu awal atas waktu kerja yang menyeluruh.
LIFO TERM:
liner in free out, merupakan kombinasi, memuat dengan menggunakan liner term dan membongkar dengan menggunakan fios term.
liner in free out, merupakan kombinasi, memuat dengan menggunakan liner term dan membongkar dengan menggunakan fios term.
FILO TERM:
free in liner out, juga merupakan kombinasi, memuat dengan menggunakan fios term dan membongkar dengan menggunakan liner term.
free in liner out, juga merupakan kombinasi, memuat dengan menggunakan fios term dan membongkar dengan menggunakan liner term.
SAGGING:
muatan terkosentrasi di tengah kapal
muatan terkosentrasi di tengah kapal
HOGGING:
muatan terkonsentrasi diujung-ujung kapal
muatan terkonsentrasi diujung-ujung kapal
BULKY:
adalah muatan yang bervolume besar tetapi muatannya ringan
adalah muatan yang bervolume besar tetapi muatannya ringan
OVERSTOWING:
adalah gambaran buruknya penumpukan (muatan yang ditumpuk untuk pelabuhan berikutnya di atas muatan muatan pelabuhan bongkar yang lebih awal)
SHIFTING:
meindahkan muatan di dalam palka yang sama atau ke palka yang berbeda atau lewat darat
adalah gambaran buruknya penumpukan (muatan yang ditumpuk untuk pelabuhan berikutnya di atas muatan muatan pelabuhan bongkar yang lebih awal)
SHIFTING:
meindahkan muatan di dalam palka yang sama atau ke palka yang berbeda atau lewat darat
LASHING/ UNLANSHING:
mengikat/ memperkuat muatan atau sebaliknya melepaskan pengikat/ penguat muatan
mengikat/ memperkuat muatan atau sebaliknya melepaskan pengikat/ penguat muatan
DUNNAGING:
memasang atas/ pemisah muatan
memasang atas/ pemisah muatan
SWEEPING :
mengumpulkan muatan-muatan yang tercecer
mengumpulkan muatan-muatan yang tercecer
BAGGING/ UNBAGGING:
memasukan muatan curah ke dalam karung atau sebaliknya yaitu membuka karung atau sebaliknya yaitu membuka karung dan mencurahkan muatan.
memasukan muatan curah ke dalam karung atau sebaliknya yaitu membuka karung atau sebaliknya yaitu membuka karung dan mencurahkan muatan.
RESTOWAGE:
menyusun kembali muatan dalam palka
menyusun kembali muatan dalam palka
SORTING:
pekerjaan memilih/ memisahkan muatan yang tercampur atau muatan yang rusak.
pekerjaan memilih/ memisahkan muatan yang tercampur atau muatan yang rusak.
TRIMMING :
meratakan muatan di dalam palka kapal.
meratakan muatan di dalam palka kapal.
CLEANING :
pekerjaan membersihkan palka kapal.
pekerjaan membersihkan palka kapal.
LONGDISTANCE:
pekerjaan cargodoring yang jaraknya mellebihi dari 130 meter.
pekerjaan cargodoring yang jaraknya mellebihi dari 130 meter.
KINERJA PELABUHAN
Indikator performace pelabuhan
atau kinerja pelabuhan adalah prestasi dari output atau tingkat
keberhasilan pelayanan, penggunaan fasilitas maupun peralatan pelabuhan
pada suatu periode waktu tertentu, yang ditentukan dalam ukuran satuan
waktu, satuan berat, ratio perbandingan (prosentase). Indikator Performance Pelabuhan dapat dikelompokkan sedikitnya atas 3 (tiga) kelompok indikator, yaitu:
- Indikator Output (Kinerja Pelayanan Kapal & Barang dan Produktivitas B/M Barang) indikator yang erat kaitannya dengan informasi mengenai besarnya throughput lalu-lintas barang (daya lalu) yang melalui suatu peralatan atau fasilitas pelabuhan dalam periode waktu tertentu;
- Indikator Service (Kinerja Trafik), dasarnya merupakan indikator yarig erat kaitannya dengan informasi mengenai lamanya waktu pelayanan kapal selama di dalam daerah lingkungan kerja pelabuhan;
- Indikator Utilisasi (Utilisasi Fasilitas Pelabuhan dan Alat Produksi) dipakai untuk mengukur sejauh mana fasilitas dermaga dan sarana penunjang dimanfaatkan secara intensif.
Langganan:
Postingan (Atom)